Monday, November 25, 2013

Penyakit Gunung dan Penanganannya


Penyakit gunung biasanya hadir di sela kita saat kita sedang aktif dalam kegiatan pendakian gunung. Sering juga kita tidak menyadarinya atau tidak mengetahuinya. Padahal, aneka penyakit gunung akan menjadi berbahaya apabila kita telah terkena dan lambat dalam penanganannya. Berikut ini untuk menambah pengetahuan kita tentang penyakit gunung dan cara penanganannya.

HEAT CRAMPS
Heat cramps atau kram karena panas adalah kejang otot hebat akibat keringat berlebihan, yang terjadi selama melakukan aktivitas pada cuaca yang sangat panas. Heat cramps disebabkan oleh hilangnya banyak cairan dan garam (termasuk natrium, kalium dan magnesium) akibat keringat yang berlebihan, yang sering terjadi ketika melakukan aktivitas fisik yang berat. Jika tidak segera diatasi, heat cramps bisa menyebabkan heat exhaustion.
Gejalanya :
·           Kram yang tiba-tiba mulai timbul di tangan, betis atau kaki.
·           Otot menjadi keras, tegang dan sulit untuk dikendurkan, terasa sangat nyeri.
Penanganannya:
Dengan meminum atau memakan minuman/makanan yang mengandung garam.


HEAT EXHAUSTION
Heat exhaustion atau kelelahan karena panas adalah suatu keadaan yang terjadi akibat terkena/terpapar panas selama berjam-jam, dimana hilangnya banyak cairan karena berkeringat menyebabkan kelelahan, tekanan darah rendah dan kadang pingsan. Jika tidak segera diatasi, heat exhaustion bisa menyebabkan heat stroke.
Gejalanya:
  • Kelelahan.
  • Kecemasan yang meningkat, serta badan basah kuyup karena berkeringat. 
  • Jika berdiri, penderita akan merasa pusing karena darah terkumpul di dalam pembuluh darah tungkai, yang melebar akibat panas. 
  •  Denyut jantung menjadi lambat dan lemah 
  • Kulit menjadi dingin, pucat dan lembab 
  • Penderita menjadi linglung/bingung terkadang pingsan.
Penanganannya: 
Istirahat didaerah yang teduh. Berikan minuman yang mengandung elektrolit.

HEAT STROKE
Heat stroke adalah suatu keadaan yang bisa berakibat fatal, yang terjadi akibat terpapar panas dalam waktu yang sangat lama, dimana penderita tidak dapat mengeluarkan keringat yang cukup untuk menurunkan suhu tubuhnya. Jika tidak segera diobati, heat stroke bisa menyebabkan kerusakan yang permanen atau kematian. Suhu 41° celsius adalah sangat serius, 1 derajat diatasnya seringkali berakibat fatal. Kerusakan permanen pada organ dalam, misalnya otak bisa segera terjadi dan sering berakhir dengan kematian.
Gejalanya:
·           Sakit kepala.
·           Perasaan berputar (vertigo).
·           Kulit teraba panas, tampak merah dan biasanya kering.
·           Denyut jantung meningkat dan bisa mencapai 160-180 kali/menit (normal 60-100 kali/menit).
·           Laju pernafasan juga biasanya meningkat, tetapi tekanan darah jarang berubah.
·           Suhu tubuh meningkat sampai 40°-41° Celsius, menyebabkan perasaan seperti terbakar.
·           Penderita bisa mengalami disorientasi (bingung) dan bisa mengalami penurunan kesadaran atau kejang.
Penanganannya:
ü  Pindahkan korban dengan segera ketempat yang sejuk, buka seluruh baju luarnya.
ü  Bungkus korban dengan selimut yang sejuk dan basah. Usahakan agar selimut tetap basah. Dinginkan korban hingga suhunya mencapai 38° Celcius.
ü  Saat temperatur mencapai 38° celcius, ganti selimut basah dengan yang kering, lanjutkan perawatan pada korban secara hati-hati.

MOUNTAIN SICKNESS
Penyebab utamanya adalah penurunan kadar oksigen didalam darah karena berada di ketinggian tertentu. Faktor yang bisa menjadi penyebabnya adalah :

  • Kurangnya aklimatisasi (proses penyesuaian dua kondisi lingkungan yang berbeda).
  •  Pergerakan mencapai ketinggian tertentu yang terlalu cepat.
Gejalanya:
·           Pusing.
·           Nafas sesak.
·           Tidak nafsu makan.
·           Mual terkadang muntah.
·           Badan terasa lemas, lesu, malas.
·           Jantung berdenyut lebih cepat.
·           Penderita sukar tidur.
·           Muka pucat, kuku dan bibir terlihat kebiru-biruan.

Penanganannya:

  • Beristirahat yang cukup, pada umumnya gejala ini akan hilang dengan sendirinya setelah beristirahat selama 24 s/d 48 jam.
  • Jika kondisi tidak membaik turunkan si penderita dari ketinggian tersebut, sekitar 500 s/d 600 meter.

HYPOTERMIA
Hypotermia adalah suatu keadaan dimana kondisi tubuh tidak dapat menghasilkan panas disertai menurunnya suhu inti tubuh dibawah 35° C. Hal tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya :
Suhu yang ekstrim.

  • Pakaian yang tidak cukup sehingga mengenakan pakaian basah.
  • Kurangnya makanan yang mengandung kalori tinggi.
Gejalanya:
·           Menggigil.
·           Dingin, pucat, kulit kering.
·           Bingung, sikap-sikap tidak masuk akal, lesu, ada kalanya ingin berkelahi.
·           Jatuh kesadaran.
·           Bernapas pelan dan pendek.
·           Denyut nadi yang pelan dan melemah.
Gejalanya dilihat dari suhunya:
·           37° : Adalah suhu normal
·           36°-35° : Menggigil dengan disertai bulu roma berdiri, namun masih bisa terkendali. Mempengaruhi gerak langkah menjadi lamban dan koordinasi tubuh mulai terganggu.
·           35° : Menggigil hingga tidak terkendali
·           35°-33° : Pengambilan keputusan dan koordinasi tubuh mulai kabur, langkah kaki sering tersandung, berbicara kasar (dipaksakan untuk keras)
·           33° : Tubuh semakin menggigil. Denyut nadi dan tekanan darah mulai menurun
·           32°-29° : Menggigil berhenti. Kebingungan meningkat, meracau, ingatan hilang, gerakan tersentak sentak, biji mata mulai membesar.
·           29°-28° : Otot menjadi kaku, biji mata membesar, denyut nadi melemah dan tidak teratur, tarikan nafas melemah, warna kulit tubuh kebiru biruan, tingkah laku kacau, menuju ke arah tidak sadar
·           27° : Pingsan dan biji mata tidak lagi menjawab gerakan cahaya, kehilangan gerakan spontan tampak seperti telah meningeal
·           26° : Koma yang sangat darurat, suhu tubuh mulai menurun dengan cepat sekali
·           20° : Denyut jantung berhenti
Penanganannya:

  • Jangan biarkan orang yang terkena hypotermia tidur, karena hal ini dapat membuatnya kehilangan kesadaran sehingga tidak mampu lagi menggangatkan badannnya sendiri. Menggigil adalah usaha secara biologis dari badan untuk tetap hangat, karena itu usahakan untuk tidak tidur.
  • Berilah minuman hangat dan manis kepada si penderita hipotermia.
  • Bila baju yang di pakai basah segera mungkin gantilah dengan baju yang kering.
  • Usahakan untuk mencari tempat yang aman dari hembusan angin, misalnya dengan mendirikan tenda atau pelindung lainnya.
  • Jangan baringkan si penderita di tanah dan usahakan agar memakai alas kering dan hangat.
  • Masukkanlah si penderita ke dalam kantong tidur. Usahakan agar kantong tidur tersebut di hangatkan terlebih dahulu ke dalam kantong tidur tersebut. Ingat, memasukkan penderita hipotermia ke dalam kantong tidur yang dingin tidak akan memadai karena badan si penderita tidak akan dapat lagi menghasilkan panas yang mampu menghangatkan kantong tidur tersebut.
  • Letakkan yang di isi dengan air hangat (bukan panas) ke dalam kantong tidur untuk membantu memanaskan kantong tidur.
  • Bila kantong tidur cukup lebar, maka panas badan orang yang masih sehat dapat membantu si penderita secara langsung, yaitu dengan tidur berdampingan di dalam satu kantong tidur. Kalau mungkin, dua orang masih sehat masuk ke dalam kantong tidur rangkap dua, kemudian si penderita di selipkan di tengah tengahnya.
  • Kalau dapat buatlah perapian di kedua sisi si penderita.
  • Segera setelah si penderita sadar berikanlah makanan dan minuman manis, karena hidrat arang merupakan bahan baker yang cepat sekali menghasilan panas dan energi.

KRAM OTOT
Penyakit ini timbul akibat kekurangan kadar garam dalam tubuh.
Gejalanya :
·           Kejang-kejang pada otot yang datangnya secara mendadak.
·           Nyeri pada otot yang tegang yang datangnya berulang-ulang.
·           Pada perabaan otot-otot yang keram terasa tegang serta terasa benjolan-benjolan otot.
Penanganannya:

  • Baringkan penderita.
  • Renggangkan otot-otot yang kram dengan menarik atau mendorongnya.
  • Berikan tablet garam.

FROSTBITE
Timbul dalam pendakian gunung es sebagai akibat membekunya sel-sel air dalam sel-sel antara kulit dan kapiler (pembuluh darah kecil). Karena temperatur kulit dibawah 10° C
Gejalanya :
·           Kulit padat, putih keabu-abuan.
·           Jaringan kulit akan mengeras dan dapat meluas ke otot da selanjutnya ketulang.
·           Bagian yang terkena terasa dingin bahkan mati rasa.
Penanganannya:

  • Bungkus bagian yang terkena dengan bahan yang kering dan tahan air (water crous).
  • Masukkan penderita kedalam tenda, lalu masukkan bagian yang membeku ke dalam air hangat bersuhu 30° C.
  • Bila telah meluas, jalan satu-satunya adalah dipotong (amputasi)

HIPOKSIA
Hipoksia yaitu kondisi simtoma kekurangan oksigen pada jaringan tubuh yang terjadi akibat pengaruh perbedaan ketinggian. Pada kasus yang fatal dapat berakibat koma, bahkan sampai dengan kematian. Namun, bila sudah beberapa waktu, tubuh akan segera dan berangsur-angsur kondisi tubuh normal kembali.
Efek hipoksia yang paling dini terhadap fisiologi tubuh adalah menurunnya ketajaman penglihatan di malam hari. Kecepatan paru-paru meningkat. Bila keadaan lebih tinggi lagi, ditemukan gejala seperti : rasa mengantuk, kelesuan, kelelahan mental, sakit kepala, mual dan kadang-kadang euforia atau rasa nyaman yang semu.
Gejala sakit kepala memang tampak dominan. Jika berlebihan, membuat kejang clan mengakibatkan koma clan mati rasa. Pertimbangan daya ingat terhadap lingkungan menjadi berkurang, sehingga menvebabkan kurangnya kontrol terhadap gerakan motorik terganggu. Akibatnya, kemungkinan kecelakaan jauh lebih besar.
Tingkat Hipoksia
·           Hipoksia Fulminan. Dimana terjadi pernapasan yang sangat cepat. Paru-paru menghirup udara tanpa adanya udara bersih (oksigen). Sering dalam waktu satu menit akan jatuh pingsan.
·           Hipoksia Akut. Terjadi pada udara yang tertutup akibat keracunan karbon monoksida. Misalnya, seorang pendaki gunung tiba-tiba panik tatkala udara belerang datang menyergap. Udara bersih tergantikan gas racun, akhirnya paru-paru tak kuasa menyedot udara bersih. Mendadak ia pingsan.
Dampak dari Hipoksia adalah :

  • Kesulitan dalam koordinasi, berbicara, dan konsentrasi
  • Kesulitan bernapas, mengantuk, kelelahan dan sianosis
  • Penurunan penglihatan, pendengaran dan fungsi sensorik lainnya
  • Keringat dingin
Bila berlanjut dapat mengakibatkan ketidaksadaran dan akhirnya meninggal. Hal ini tergantung pada ketinggian dan kondisi pendaki. Proses hipoksia timbul secara perlahan. Biasanya pendaki gunung yang terlalu lama dalam perjalanan pendakian, sesampainya di rumah tubuhnya tidak bisa menerima perubahan suhu. Hipoksia yang terjadi berjalan agak lama. Tentu saja hal ini akan mengganggu proses pernapasan yang dilakukan paru-paru.
Untuk mencegah dampak buruk dari hipoksia, para pendaki gunung yang sebelumnya mengidap penyakit jantung, pernapasan clan sirkulasi darah dianjurkan untuk tidak mencapai ketinggian yang melebihi daya tahan tubuh. Dengan demikian, sebelum mendaki gunung periksa keadaan diri.


7 Tips P3K saat Berpetualang
Saat berpetualang di luar ruangan, kecelakaan kecil sering dan mudah terjadi. Dan sangat penting untuk mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan jika disekitar kita ada yang mengalami kecelakaan ringan. Dan berikut ini tentang 7 tips P3K dasar saat berpetualang yang di ambil dari 'Lonely Planet's Book of Everything' yang dikutip News Australia.
Ada beberapa barang P3K yang penting dibawa saat berpetualang. Beberapa di antaranya adalah plester, krim atau kapas antiseptik, aspirin, lotion calamine, kapas steril, alkohol untuk luka luar, gunting, senter, dan penjepit.
1.        Mimisan
Jika kita atau partner petualangan mimisan, cobalah duduk. Perlahan, dongakkan kepala ke atas dan biarkan mulut terbuka. Menggunakan tangan, jepit bagian bawah lubang hidung dan tahan sekitar 15 menit. Bernafaslah lewat mulut.
Longgarkan jepitan perjalan. Jangan pegang area hidung selain bagian bawah, dan tetaplah bernafas lewat mulut. Kalau 20 menit kemudian mimisan belum juga berhenti, coba cari pertolongan medis.
2.        Cegukan
Walaupun bukan penyakit yang fatal, cegukan kerap mengganggu para petualang. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman akibat cegukan, cara dasar yang ampuh adalah menstimulasi diafragma sendiri.
Tarik nafas panjang dari hidung, tahan sekitar 5 detik, kemudian keluarkan perlahan dari mulut. Perbanyak minum air putih, namun jangan sekali tenggak. Minum sedikit demi sedikit dan telan pelan-pelan.
3.        Luka bakar kecil
Lepaskan segala hal yang menempel dengan luka bakar. Kalau lukanya di tangan maka lepaskan jam tangan, gelang atau cincin. Kalau berada di bagian yang tertutup baju, coba lepas atau sobek di bagian luka bakar.
Basuh atau diamkan luka bakar di air dingin yang mengalir, sungai yang jernih misalnya, selama beberapa menit. Ambil kain, celupkan ke air dingin lalu kompres sampai sakitnya berkurang. Setelah itu, baru bersihkan luka bakar kecil dengan kain bersih atau steril jika memungkinkan.
4.        Luka bakar besar
Kalau pakaian terkena api, siramlah dengan air. Selimuti dengan selimut dan tempatkan di tanah. Jangan coba-coba melepas baju atau pakaiannya yang mungkin sudah menempel dengan luka bakar.
Tutupi luka bakar yang tidak terkena pakaian dengan kain bersih/steril untuk menutupi infeksi. Penting untuk tidak mengoleskan minyak, mentega, atau margarin (beberapa orang awam biasa melakukan ini). Jangan pula mengaplikasikan lotion apa pun pada luka.
5.        Mabuk perjalanan
Mabuk biasanya disebabkan oleh gerakan konstan yang menstimulasi telinga bagian dalam. Untuk mencegahnya, mampirlah ke apotek sebelum melakukan perjalanan dan belilah obat anti mabuk. Produk-produk yang mengandung Antihistamines bisa mengatasi mabuk perjalanan kalau diminum satu jam sebelum berangkat.
Agar tidak pusing selama perjalanan, fokuskan padangan lurus ke depan. Jangan lihat benda-benda yang letaknya dekat atau objek yang terus bergerak.
6.        Kulit terbakar dan melepuh
Kalau kulit terbakar sinar matahari, aplikasikan sunblock atau lotion calamine (seperti Caladine). Tutupi bagian yang terbakar dengan kain ringan seperti kaus atau pasmina.
Jika kulit mulai menggembung lalu melepuh, cara paling ampuh untuk menyembuhkannya adalah dengan membiarkannya saja. Jangan pegang apalagi memecahkan gelembung berisi air tersebut. Kalau pecah, kulit menjadi luka dan kemungkinan infeksi akan lebih parah.
7.        Serangan jantung
Serangan jantung bisa disebabkan oleh kelelahan akibat panas saat terus-terusan berkeringat. Saat keringat itu berhenti sepenuhnya, tubuh akan menjadi kering dan sulit bernafas.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah meminta bantuan medis. Cari tahu nomor telepon rumah sakit terdekat dan panggil ambulans.
Yang terkena serangan jantung harus ada di tempat yang teduh dan rindang. Posisikan dirinya dalam keadaan duduk, kepala sedikit didongakkan ke atas. Ambil majalah/buku dan kipas-kipas sampai temperatur tubuhnya kembali normal.


Cedera Otot dalam Pendakian Gunung
Cedera otot dalam pendakian gunung - sering di alami oleh banyak pendaki. Kita sering mengalami pegal-pegal kaki setelah turun dari gunung. Bahkan untuk sekedar berjalan saja terasa sakit. Dan berikut ini tentang cedera otot dalam pendakian gunung beserta cara pencegahannya.
1.        Kram Betis
Kram betis (strained calves) dirasakan seperti terbakar, tidak ada tenaga dan kram pada otot betis. Hal ini diakibatkan saat mendaki tanjakan berbatu yang mengharuskan kita memanjat dengan menaikkan kaki satu persatu sehingga beban tertumpu hanya pada betis , bukannya pada otot paha dan bokong.
Jika mengalaminya saat mendaki, kita harus istirahat, letakkan kaki yang sakit lebih tinggi dari jantung, dan pijat untuk melemaskannya. Untuk mencegah, sebelum mendaki kita harus melatihotot paha dan otot bokong kita sehingga otot tersebut bisa jadi tumpuan saat menanjak memanjat.
2.        Cedera Pergelangan Kaki
Cedera pergelangan kaki (rolled ankle) ini berupa rasa sakit dan bengkak pada pergelangan kaki, meski kita tidak menyadari kalau kita keseleo selama perjalanan. Cedera ini disebabkan jika otot betis ke bawah kurang kuat sehingga tidak memberikan kestabilan pada pergelangan kaki saat berjalan di tempat yang tidak rata seperti berbatu atau tanah bergelombang.
Untuk pencegahannya latih keseimbangan satu kaki dengan membawa beban untuk memperkuat otot kaki bawah kita termasuk pergelangan kaki. Jika bolak-balik mengalami cedera, gunakan boot potongan tinggi.
3.        Lutut Gemetar
Sakit di otot paha dan lutut gemetar (sore on quads and/or knee). Penyebabnya adalah saat turun dengan bawaan masih berat, posisi kesejajaran antara pinggul, lutut dan pergelangan kaki yang tidak tepat, dan terakhir akibat kaki panjang sebelah.
Untuk mecegah, latih otot torso kita yaitu mulai dari bahu sampai pinggul sehingga tubuh kita stabil dalam membawa beban berat saat turun pendakian. Gunakan juga trekking pole kalau turun gunung.
4.        Otot Pinggul Sakit
Radang sendi pinggul (hip bursitis) dirasakan sakit luar biasa setiap langkah kita akibat kerusakan jaringan lunak di daerah pinggul. Alhasil, cara jalan kita pasti jadi aneh, seperti malas mengangkat paha kita. Ini yang paling sering kita alami sebenarnya bagi yang suka mendadak mendaki di akhir minggu tanpa persiapan olahraga beberapa minggu sebelumnya.
Banyak duduk di kantor, langsung mau mendaki, otot pinggul kita lah yang jadi sasaran kram dan sakit selama pendakian. Latihan hip abductor sangat membantu menguatkan otot-otot pinggul kita.
5.        Metatarsalgia
Metatarsalgia (nyeri pada tulang jari tepat sebelum jari-jari kaki) dirasakan seperti ada batu tajam di dalam sepatu kita. Hal ini terjadi jika kita menggunakan sepatu yang memiliki ujung sempit atau terlalu lekuk ke atas, selain kebiasaan menapak dengan ujung sepatu terlalu berlebihan saat pendakian.
Ubah kebiasaan menapak. Tekanan saat menapak harus didistribusikan sampai ke tumit. Bantalan tambahan pada sole dalam dapat mengurangi tekanan di pangkal jari saat menapak.

Lecet dalam Pendakian
Di dalam sebuah pendakian, keberhasilan suatu kegiatan di alam terbuka juga ditentukan oleh perencanaan dan perbekalan yang tepat. Hal-hal yang menjadi perhatian dalam kaitannya dengan perencanaan perjalanan itu antara lain mengenal jenis medan, menentukan tujuan kegiatan, mengetahui lamanya perjalanan, mengetahui keterbatasan kemampuan fisik untuk membawa beban dan memperhatikan hal-hal khusus seperti obat-obatan tertentu misalnya.
Hal ini dimaksudkan untuk memberikan efektifitas kerja kepada setiap pendaki dengan membawa apa yang perlu dibawa dan melakukan apa yang perlu dilakukan. Dengan cara ini maka potensi terjadinya bahaya cedera dapat dikurangi meskipun tidak dapat dihilangkan.
Dari kajian pustaka dan pengamatan peneliti di lapangan, maka terdapat beberapa macam cedera pada pendaki gunung yang sedang melakukan aktifitasnya mendaki gunung yang dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1.        Lecet
Lecet merupakan cedera tingkat 1 (cedera ringan) yang terjadi berupa goresan di kulit karena benda tajam. Pada cedera ini penderita tidak mengalami keluhan yang serius namun dapat mengganggu penampilan seseorang. Setiap cedera yang menyebabkan lapisan kulit terluar terkelupas, sehingga jaringan di bawahnya terpapar oleh bakteri dan kemungkinan infeksi disebut lecet
2.        Memar
Memar adalah cedera yang disebabkan oleh benturan benda keras pada jaringan lunak tubuh. Dari sumber lain disebutkan Memar atau lebam adalah suatu jenis cedera pada jaringan tubuh yang menyebabkan aliran darah dari sistem kardiovaskular mengendap pada jaringan sekitarnya, disebut hematoma, dan tidak disertai robeknya lapisan kulit.
Memar ditimbulkan oleh trauma seperti tumbukan benda tumpul dan menimbulkan rasa sakit walaupun pada umumnya tidak berbahaya. Endapan sel darah pada jaringan kemudian mengalami fagositosis dan didaurulang oleh makrofaga. Warna biru atau ungu yang terdapat pada memar merupakan hasil reaksi konversi dari hemoglobin menjadi bilirubin. Lebih lanjut bilirubin akan dikonversi menjadi hemosiderin yang berwarna kecokelatan.
3.        Kram 
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kram otot ini seperti pada saat otot mengalami kelelahan dan secara tiba-tiba meregang, maka otot tersebut (dengan terpaksa) akan meregang secara penuh dan ini dapat mengakibatkan kram.
Kram juga dapat disebabkan karena adanya ketidaksempurnaan biomekanik tubuh karena adanya malalignment (ketidaksejajaran) dari bagian kaki bawah atau keadaan otot yang terlalu kencang. Kekurangan beberapa jenis mineral tertentu (seperti zat sodium, potassium, kalsium, zat besi dan posphor) yang dibutuhkan oleh tubuh juga dapat mempengaruhi terjadinya kram otot.
Pada beberapa kasus kram otot yang terjadi dapat juga disebabkan karena terbatasnya suplai darah yang tersedia pada otot tersebut, sehingga menyebabkan terjadinya kram otot pada saat melakukan kegiatan.
4.        Strain dan sprain 
Strain adalah kerusakan pada jaringan otot karena trauma langsung (impact) atau tidak langsung (overloading). Pada cedera strain rasa sakit adalah nyeri yang menusuk pada saat terjadi cedera, terlebih jika otot berkontraksi.
Strain ringan ditandai dengan kontraksi otot terhambat karena nyeri dan teraba pada bagian otot yang mengaku. Strain total didiagnosa sebagai otot tidak bisa berkontraksi dan terbentuk benjolan. Cidera strain membuat daerah sekitar cedera memar dan membengkak.
Setelah 24 jam, pada bagian memar terjadi perubahan warna, ada tanda-tanda perdarahan pada otot yang sobek, dan otot mengalami kekejangan. Sedang cedera sprain adalah cedera pada ligamen di sekitar persendian tulang yang dibentuk oleh permukaan tulang rawan sendi yang membungkus tulang-tulang yang berdampingan.
Kerusakan serat ligamen sering dibarengi oleh pendarahan yang menyebar di sekeliling jaringan dan terlihat sebagai memar. Sebagai penyebabnya adalah persendian tulang dipaksa melakukan suatu gerak yang melebihi jelajah sendi atau range of movement normalnya.
Trauma langsung ke persendian tulang, yang menyebabkan persendian bergeser ke posisi persendian yang tidak dapat bergerak. Dalam buku lain juga disebutkan sprain adalah cedera yang menimbulkan nyeri, yang disebabkan oleh kerusakan pada ligamen yaitu jaringan ikatfibrosa yang keras dan elastik, yang membungkus sendi.
5.        Frakture
Terdapat beberapa pengertian mengenai frakture, sebagaimana yang dikemukakan para ahli melalui berbagai literatur. Frakture adalah rusaknya dan terputusnya kontinuitas tulang, sedangkan menurut Boenges, frakture adalah pemisahan atau patahnya tulang.  
Back dan Marassarin berpendapat bahwa fraktur adalah terpisahnya kontinuitas tulang normal yang terjadi karena tekanan pada tulang yang berlebihan. Lewis (2000) berpendapat bahwa tulang bersifat relatif rapuh namun mempunyai cukup kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan.
Fraktur dapat diakibatkan oleh beberapa hal yaitu :
Fraktur akibat peristiwa trauma.  Sebagian fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, perubahan, pemuntiran atau penarikan. Bila tekanan kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang terkena dan jaringan lunak juga pasti akan ikut rusak. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur lunakjuga pasti akan ikut rusak. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya. Penghancuran kemungkinan akan menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas.
Fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekanan. Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain akibat tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering dikemukakan pada tibia, fibula atau metatarsal terutama pada atlet, penari atau calon tentara yang berjalan baris-berbaris dalam jarak jauh.
Fraktur petologik karena kelemahan pada tulang. Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang tersebut lunak (misalnya oleh tumor) atau tulang-tulang tersebut sangat rapuh.
6.        Blister (Lepuhan)
Lepuhan adalah kumpulan cairan yang terletak diantara lapisan terluar kulit yang disebabkan oleh gesekan, tekanan dan panas. Kombinasi yang terdiri dari tiga macam mikrotrauma fisik tersebut menyebabkan terjadinya pemisahan lapisan kulit (dermis dan epidermis) dan resultan cairan yang meradang, menggelembung pada lapisan terluar kulit yang mengakibatkan cairan isi lepuhan dengan lapisan terluar kulit, membentuk kulit lepuhan.
Lepuhan sering terjadi saat atlet memulai aktifitas baru atau meningkatkan porsi suatu aktifitas. Sepatu baru dan perubahan lantai arena menyebabkan timbulnya lepuhan. Kondisi kelembaban atau panas juga mempengaruhi munculnya lepuhan. Mereka yang berkulit sehat lebih mudah terkena lepuhan.
7.        Sunburn
Pada hari-hari yang berkabutpun, anda kemungkinan masih bisa tersengat sinar Matahari, karena sinar matahari ini dapat dipantulkan baik melalui mendung (awan), bangunan-bangunan, pepohonan dan bahkan memantul lewat media tanah (permukaan aspal).
Sengatan sinar Matahari harus kita antisipasi sedini mungkin meskipun kulit belum memberikan gejala-gejala rasa sakit seperti terbakar. Rasa sakit karena tersengat sinar Matahari tersebut disebabkan oleh adanya keterlambatan pelepasan bahan-bahan kimia tertentu yang disebut prostaglandins oleh sel-sel yang rusak.
8.        Nyeri pinggang bagian bawah (Low Back Pain)
Low back pain atau nyeri pinggang bawah adalah suatu kondisi dimana penderita merasa nyeri dibelakang pinggang bagian bawah. Cedera pada pinggang bawah sering terjadi disebabkan karena kelelahan dan kurangnya pemanasan sebelum melakukan aktifitas.
Cedera ini dipicu oleh tidak seimbangnya kekuatan otot punggung dan otot perut dimana pada umumnya otot perut jauh lebih dominan sehingga pada saat gerakan tertentu otot punggung bagian bawah ini mengalami cedera.
Cedera ini juga bisa disebabkan karena kesalahan posisi. Kesalahan posisi dalam aktifitas, akan membuat otot tertahan dalam satu posisi. Selain itu, pada pendaki gunung cedera ini bisa terjadi karena kesalahan dalam pengaturan berat beban yang dibawa atau karena posisi tas yang salah yang menyebabkan beban tertumpu di pinggang atau punggung bagian bawah dan bukan di pundak atau bahu.
9.        Hypothermia 
Hipotermia adalah penurunan suhu tubuh (kedingingan) dari suhu normal, dan apabila kalau tidak cepat mengatasi situasi tersebut di gunung bisa berakibat fatal. Biasanya suhu tubuh kita normal dan tetap pada suhu kurang lebih 37,5 derajat celsius. Kalau panas, tubuh kita akan mengeluarkan keringat untuk mengurangi panas tersebut dan kalau dingin kita menggigil untuk memanaskan tubuh.



5 Penyakit Penghambat pendaki Gunung
Mendaki gunung membutuhkan kesiapan fisik dan juga mental yang sangat prima. Dan seseorang mempunyai riwayat penyakit tertentu sangat di anjurkan untuk tidak melakukan pendakian gunung. Sebab resikonya sangatlah serius, mulai dari cedera hingga kematian mendadak!
Ada beberapa faktor yang perlu diperhitungkan sebelum mendaki gunung. Pertama kondisi personel, seberapa berat medan yang dilalui, serta kondisi lingkungan yang meliputi cuaca, rekan sesama pendaki dan juga kelengkapan.
Terkait kondisi personel, orang-orang yang memiliki riwayat penyakit berikut ini tidak dianjurkan untuk mendaki gunung.
1.        Gangguan Jantung
Seperti halnya aktivitas fisik berintensitas berat lainnya, aktivitas mendaki gunung juga bisa meningkatkan kerja jantung. Risiko kematian mendadak akibat serangan jantung dipastikan akan meningkat apabila sejak awal seorang pendaki punya riwayat gangguan jantung.
2.        Darah Tinggi
Meski tidak memiliki gangguan jantung, seseorang dianjurkan agar menahan diri untuk tidak mendaki gunung jika punya riwayat hipertensi atau tekanan darah tinggi. Aktivitas fisik yang berat seperti pendakian gunung akan semakin meningkatkan tekanan darah dan dampaknya bisa sangat buruk bagi jantung dan pembuluh darah.
3.        Gangguan Paru–paru
Gangguan fungsi paru-paru baik karena sesak napas maupun sekedar flu bisa berbahaya jika dibawa naik gunung. Selain kadar udara di ketinggian memang tipis, menurunnya kemampuan paru-paru dalam menyerap oksigen membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk mendistribusikan oksigen yang hanya sedikit.
4.        Glaukoma
Meski tidak fatal, risiko kerusakan mata saat mendaki gunung juga perlu diwaspadai jika memiliki riwayat glaukoma atau meningkatnya tekanan bola mata meskipun kondisinya tidak terlalu parah. Saat mendaki medan terjal, seseorang cenderung mengejan sehingga tekanan rongga perut meningkat lalu diikuti juga oleh tekanan pada bola mata.
Kondisi ini seringkali tidak disadari, karena yang dirasakan biasanya hanya pusing-pusing di kepala. Padahal jika pendakian masih diteruskan, lama-kelamaan pandangan akan menjadi kabur dan bukan tidak mungkin akan memicu kerusakan yang lebih serius pada mata.
5.        Diabetes
Pengidap diabetes sebenarnya tidak dilarang naik gunung, asal kondisinya terkontrol dalam arti rutin minum obat dan kadar gulanya sedang normal. Namun jika tidak terkontrol, maka risiko yang perlu diwaspadai saat naik gunung adalah kemungkinan lecet atau cedera yang lebih serius.
Seperti yang kita tahu, lecet sekecil apapun pada pengidap diabetes bisa memicu komplikasi yang lebih serius. Dampaknya mungkin tidak dirasakan saat itu juga, tetapi setelah turun dari gunung harus segera mendapat perawatan.


Ancaman Angin Duduk Bagi Pendaki
Angin duduk adalah gejala penyempitan pembuluh darah dari jantung yang mengalirkan oksigen. Jadi bukan saat duduk kemudian ada angin kemudian duduk sambil berangi  angin! Dan angin duduk tersebut menjadi ancaman bagi para pendaki gunung, karena kita tahu bahwa kita butuh banyak asupan oksigen saat aktifitas tertentu seperti pendakian gunung.
Mengapa angin duduk mengancam pendaki?
Pendaki akan menjadi terancam serius terkena angin duduk jika dia terlalu memaksakan dirinya untuk terus naik tanpa adanya istirahat. Aktivitas naik gunung adalah salah satu aktivitas yang membutuhkan banyak oksigen. berkebalikan dengan itu, semakin tinggi mendaki maka semakin sedikit kadar oksigennya.
Gejala
Biasanya, saat terserang angin duduk, dada sebelah kiri terasa sakit. Apa itu yang sakit? ya benar, jantung yang sakit, karena jantung tidak bisa mengakomodir kebutuhan oksigen diseluruh tubuh 
Akibat
Akibat paling parah adalah KEMATIAN!, namun ada beberapa yang sempat ditolong sehingga tidak sampai ke titik itu. Namun, jika terhindar dari kematian, akan dapat menyebabkan sakit jantung. Bagaimanapun, sakit jantung sudah tidak mungkin disembuhkan. Pertolongan dokter hanya dapat memperlambat terkena serangan penyakit jantung.
Bagaimana menghindarinya? 
Sebenarnya seperti yang  tersebut diatas, tidak mungkin mengatasi angin duduk, tetapi sebisa mungkin tidak membuatnya tambah parah sehingga menyebabkan serangan jantung yang fatal. Namun, sebelum terkena angin duduk, biasakan banyak olahraga, sering periksa ke dokter soal tekanan darah, kadar gula dan kolesterol, terus kendalikan makan. Jangan banyak makan makanan padang, daging, telur puyuh, dan kawan-kawannya akrabnya.


Cara Mencegah Mabuk Gunung
Cara mencegah mabuk gunung ini sebaiknya diketahui, karena saat di alam bebas banyak kendala yang mempersulit perjalanan kita. Antara lain adalah mabuk gunung. Hampir sama dengan istilah mabuk yang lain, mabuk gunung adalah penyakit yang menghinggapi pendaki hingga merasa ada sesuatu yang bisa berlebihan dan kekurangan. Silahkan diketahui dan di antisipasi.
1.        Menghindari Faktor Pemicu
Hal pertama yang perlu diupayakan adalah menjauhkan diri dari faktor-faktor pemicu. Meskipun tidak selalu berhubungan langsung, hal-hal berikut ditengarai sering memicu dan memperburuk mabuk gunung.
·           Menambah ketinggian terlalu cepat
·           Aktivitas fisik yang berlebihan (overexertion)
·           Kedinginan (hypothermia)
·           Hidrasi tidak cukup, dan
·           Konsumsi alkohol atau sedatives lain.
2.        Aklimatisasi
Seperti telah diketahui, penyebab mabuk gunung adalah tidak mampunya tubuh menerima kondisi di ketinggian. Ketidakmampuan itu terjadi kalau penambahan elevasi terjadi pada waktu yang terlalu singkat—lebih singkat dari waktu yang diperlukan oleh tubuh untuk menyesuaikan diri. Sebenarnya, tubuh kita bisa beradaptasi, tetapi hal itu harus dilakukan secara bertahap. Usaha ini disebut aklimatisasi.
Rumus aklimatisasi pendaki adalah climb high sleep low (CHSL)—naik ke ketinggian tertentu, kemudian turun untuk tidur/beristirahat pada ketinggian di bawahnya. Misalnya direncanakan untuk buka camp pada ketinggian 3.600 mdpl, naiklah dulu ke 4.000 mdpl. Untuk pendakian gunung yang elevasinya >3.600 mdpl, aklimatisasi dengan rumus ini mutlak diperlukan. Itulah sebabnya pendakian Everest bisa makan waktu lebih dari sebulan karena pendaki naik-turun berkali-kali sebelum melakukan summit attack. Gunung-gunung kita yang rata-rata 3.000 an mdpl, untuk kebanyakan pendaki bisa disikat langsung.
Selain itu, setelah melewati batas 3.000 mdpl, penambahan elevasi harus dibatasi maksimum 300 mt per hari. Selain Jayawijaya, ada empat gunung di Indonesia yang menurut hemat saya harus memperhatikan kaidah ini, yaitu Kerinci, Rinjani, Semeru, dan Slamet karena ketinggiannya melebihi 3.300 mdpl. Untuk kelima gunung ini, idealnya summit attack dilakukan dari ketinggian yang berjarak kurang dari 300 meter vertikal dari puncak.
Dua puluh empat jam pertama berada di daerah yang tinggi, misalnya di desa terakhir (base camp) batasi aktivitas fisik. Meskipun demikian, pada siang hari, aktivitas ringan lebih baik dari pada tidur agar respirasi melakukan penyesuaian.
3.        Nutrisi dan Hidrasi
Hidrasi sangat penting. Eksersi membuang cairan dalam tubuh, dan itu perlu diganti. Indikasi kecukupan hidrasi adalah banyak dan beningnya urine. Bila kencing sedikit, pekat, dan berwarna, berarti kurang minum. Makanan tinggi karbohidrat harus menjadi menu utama pendaki. Alasannya adalah bahwa 70% kalori dihasilkan oleh karbohidrat.
4.        Mengenal Diri Sendiri
Yang tidak kalah penting dari semua saran di atas adalah mengenali diri sendiri. Harus paham betul bagaimana tubuh bereaksi terhadap kondisi di ketinggian karena tidak ada ciri-ciri pembeda khusus antara yang rentan dengan yang tahan. Sungguh bijaksana bila mau belajar merasakan dan mengenali setiap gejala yang terasa. Misalnya, membedakan antara sakit kepala yang terjadi karena eksersi berlebihan (seperti bila anda selesai berlari sprint) dengan nyut-nyutan gejala mabuk gunung.
Angka-angka dalam tulisan ini harus dianggap hanya sebagai patokan umum yang tidak absolut. Untuk masing-masing individu, pada prakteknya bergeser naik atau turun dari angka-angka itu. Pada akhirnya, mabuk gunung bersifat sangat personal.
Golden rule di ketinggian : bila mengalami tidak enak badan, pusing atau pening tetapi tidak tahu sebabnya secara pasti, anda harus menyimpulkan bahwa anda menderita mabuk gunung!
5.        Mengenal Teman Satu Tim
Teman sependakian belum tentu mengetahui seluk-beluk mabuk gunung. Belum tentu pula mereka cukup mengenal daya adaptasi diri sendiri terhadap ketinggian. Kalau demikian keadaannya, perlu menajamkan pandangan untuk mengamati kondisi mereka. Dari pengalaman, gejala awal mabuk yang paling mudah diamati dari luar adalah kondisi fisik dan tingkah-laku.
Bila ada teman yang mengalami kelelahan berlebihan, amati terus keadaannya. Kalau ada yang begini, uji kondisinya dengan menyodorkan makanan kecil. Kalau dia menolak, cobalah makanan lain. Kalau semua ditolak, waspada!
Ciri lain yang sering mencolok adalah social withdrawal. Kalau ada teman yang berubah perangainya menjadi lebih pendiam, ogah ngobrol, kehilangan canda, dan lebih suka menyendiri, harus mulai curiga. Berikutnya, ujilah juga dengan makanan. Pendeknya, bila pendaki masih rakus dan doyan ini-itu, berarti sehat!

Penanganan Mabuk Gunung
1.        Stop
Kalau gejala AMS mulai terasa, STOP! Jangan ngotot! Pergerakan naik harus dihentikan sampai gejala hilang. Berikan waktu yang cukup untuk tubuh melakukan adaptasi. Bila tidak ada tanda-tanda membaik, segeralah mengurangi ketinggian paling tidak 300 meter vertikal. Bila tidak membaik juga, urungkan niat mendaki. Turunlah sesegera mungkin!
2.        Mandiri
Mendaki berombongan, biasanya lebih merepotkan bila mengalami mabuk gunung. Naik salah, berhenti sendirian pun salah. Bagaimanapun, kalau memang harus, ditinggal sendirian di tengah hutan jauh lebih baik. Pemaksaan diri mengikuti rombongan bergerak naik justru memperbesar risiko dimakan setan. Awas, setan HAPE dan setan HACE menunggu!!! Dalam situasi darurat, beranikan diri untuk mengambil keputusan dan bertindak sendiri.
Studi menunjukkan bahwa kematian oleh mabuk gunung, terjadi lebih banyak pada pendaki yang berkelompok daripada solo. (Shlim DR, Houston R., Helicopter Rescues and Deaths Among Trekkers in Nepal).
3.        Berkorban
Untuk pendaki yang sehat, selayaknya bersedia mengorbankan kepentingannya mencapai puncak bila ada teman setim yang mabuk gunung. Temani si pemabuk sampai bisa dibawa naik, atau bawalah turun kalau perlu. Percayalah, pengorbanan bisa berarti menyelamatkan nyawa.
4.        Cara Istirahat
Istirahat untuk pemabuk gunung harus diusahakan dalam keadaan sehangat dan senyaman mungkin. Pemakaian tenaga harus diminimumkan, meskipun pada perjalanan turun.
5.        Yang Harus Dihindari
Rokok, alkohol, dan depresan lain termasuk obat penenang dan obat tidur harus dijauhi. Depresan akan menurunkan respirasi pada saat tidur, sehingga memperburuk gejala mabuk gunung.
6.        Turun
Turun adalah resep terbaik untuk yang sudah terkena HACE atau HAPE. Cara ini relatif mudah dilakukan di gunung-gunung di Indonesia. Jadi, tidak ada yang perlu ditunggu. Turun! Bila peralatan dan anggota tim lain mampu, penderita yang sudah parah sebaiknya digotong/digendong untuk meminimumkan aktivitas fisik.
Kalau karena alasan tertentu turun tidak mungkin, korban memerlukan bantuan oksigen. Pada kasus-kasus yang lebih berat yang biasanya terjadi di gunung-gunung extremely high, penderita dimasukkan ke dalam gumow bag (kantong bertekanan portable).
7.        Medikasi
Sebenarnya ada obat-obatan yang bisa membantu penderita mabuk gunung. Bahkan ada jenis tertentu yang bisa dipakai untuk membantu aklimatisasi para rescuer karena mereka harus bergerak naik dengan cepat.


Cara Mengatasi Dingin di Gunung
Suhu dingin di ketinggian gunung berbeda dengan kondisi dingin di bawah, apalagi jika malam hari menjelang. Untuk beberapa gunung, suhu di atas gunung bisa mencapai 0 derajat celcius, dan suhu ekstrem di gunung sangat berbahaya bagi kita, jika kita tak pandai mengantisipasinya dengan baik. Dan biasanya jika kita dalam pendakian gunung, untuk sedikit meredakan rasa dingin, kita akan memakai jaket yang tebal dan membuat api unggun, tetapi apakah cara itu berkhasiat manjur?
Banyak dari para pendaki yang mempunyai penyakit alergi terhadap dingin, bila terkena hawa atau suhu yang dingin tubuh mereka langsung timbul bintik-bintik merah di sekujur tubuhnya. Penyakit ini sering sekali terjadi bila berada di tempat yang dingin, untuk menghilangkannya cukup oleskan minyak kayu putih atau sejenisnya yang bisa membuat hangat, dan sebaiknya tidak di oleskan balsam karena justru akan menambah rasa dingin tersebut, kebanyakan balsam mengandung zat menthol yang mempunyai efek dingin.
Tips-tips untuk menghadapi dan menghilangkan rasa dingin di atas gunung :

  1. Sebaiknya melakukan aklimatisasi (penyesuaian tubuh terhadap suhu dan kondisi alam sekitar sebelum melakukan pendakian) terlebih dahulu.
  2. Buatlah api unggun kecil untuk menghangatkan tubuh di malam hari.
  3. Meminum-minuman hangat seperti wedang jahe, teh, dan lain-lain untuk menghangatkan tubuh, tetapi jangan sekali-kali meminum-minuman keras di atas gunung karena akan berakibat fatal. Alkohol memang dapat melebarkan pembuluh darah sehingga aliran darah dapat menjadi lebih lancar, sehingga akan menimbulkan efek hangat, namun jangan lupa alkohol juga dapat membuat kita kehilangan kesadaran, dan hal ini sangat jauh lebih berbahaya daripada rasa dingin itu sendiri!!. sudah terlalu banyak pendaki yang mati sia-sia karena kebodohan ini.
  4. Memakan-makanan hangat dengan perhitungan protein dan karbohidrat yang lebih tinggi, supaya badan tetap merasa hangat dan kondisi badan tetap terjaga.
  5. Pakailah pakaian yang tebal seperti jaket, sweater, dan lain-lain, karena akan terasa hangat di suhu yang dingin.
  6. Jangan sekali-sekali memakai pakaian berbahan dasar jeans, selain memberatkan, menyita kalori terlalu banyak akibat tidak leluasa bergerak, menyulitkan saat basah, jeans juga tidak dapat menahan dingin dengan sempurna.
  7.  Istirahat yang cukup dan tidak memforsir diri di luar jangkauan daya tahan tubuh, istirahat yang kurang dapat membuat kesadaran kita semakin berkurang, hal ini juga dapat berefek pada rasa dingin yang semakin menyerang.
Trik-trik tidur di suhu yang dingin
Banyak dari para pendaki yang tidak tahu bagaimana cara menghilangkan dingin sewaktu tidur dalam pendakian gunung. Perhatikan baik-baik bahwa dingin lebih menyerang ke titik-titik berikut ini : telinga, telapak tangan dan jari, kemudian pergelangan kaki sampai ke jari, pastikan bagian-bagian ini tertutup rapat. Pakailah kaus kaki tebal saat tidur atau istirahat, sarung tangan, kupluk, jaket dan masih banyak lagi, yang bisa membuat hangat pada waktu tidur. Bisa juga dengan cara berhimpit-himpitan pada saat tidur, cara ini juga ampuh digunakan untuk menghilangkan rasa dingin waktu tidur. Dengan cara berhimpit-himpitan atau merapatkan tubuh sesama teman, kita bisa merasakan hangat yang keluar dari dalam tubuh kita. Cara itu yang biasa dipakai oleh para pendaki untuk menghilangkan rasa dingin pada saat kita tidur. Berhimpitan tentu dengan tetap memakai jaket tebal, jika tidak, atau justru malah telanjang, bisa jadi bencana kedua!
Pastikan untuk tidak lupa memperhatikan sistem udara dan membuat saluran air di sekitar tenda sebelum kita tidur, tak peduli apakah kita memakai jaket super tebal atau kaus kaki dobel, itu tak akan berpengaruh kalau tenda kita tergenang air hujan. Menaruh daun-daun kering yang banyak dibawah tenda juga lumayan membantu, selain menambah empuk dasar tenda, juga membuat tenda tidak bersentuhan langsung dengan tanah yang dingin dan lembab. Bila hendak menyalakan api unggun sebaiknya perhatikan benar unsur kayu dan arah apinya, biji pinus yang terbakar kadang dapat meledak dan terlontar ke tenda, sehingga berpotensi kebakaran.
Membawa termos kecil juga dapat membantu menjaga air tetap hangat lebih lama, sehingga tidak bolak-balik memasak air, yang malah membuat kita semakin kedinginan. Bila tak merasa repot, bisa membawa termos yang agak besar, hingga lebih banyak muatan air panasnya, atau ada yang ingin membawa panci?


Mengatasi Gigitan Ular di Alam Bebas
Penjelajahan di alam bebas memang salah satu kegiatan yang menarik dan menantang bagi penggemarnya. Perjalanan yang tentunya diselingi dengan pertemuan kita dengan hewan liar, seperti ular misalnya merupakan satu hal yang menantang.
Tapi waspadalah! Jika tidak hati-hati, serangan seperti digigit ular bisa dialami siapa saja. Panik, cemas dan tegang pasti langsung menggelayuti seluruh tubuh begitu tahu ada anggota kelompok yang digigit ular. Ya, kecelakaan seperti ini memang tak bisa dihindari saat sedang berkegiatan di alam bebas.
Lalu apa yang harus dilakukan jika hal semacam ini dialami? Inilah 5 tips dan langkah pertama yang harus dilakukan ketika ular tiba-tiba menggigit anggota tubuh rekan perjalanan :
1.        Jangan panik
Hal pertama yang harus dilakukan dan sangat penting adalah jangan panik. Sang korban gigitan boleh saja teriak kaget dan tiba-tiba berubah panik ketika kakinya digigit ular, tapi ini tidak boleh terjadi oleh rekan satu tim.
Sebagai rekan kelompok, teman lain harus tenang, jangan ikut-ikutan panik apalagi histeris. Panik hanya membuat pikiran jadi buntu, kemudian akan lupa dengan pertolongan pertama yang seharusnya dilakukan. Jangan lupa juga untuk menenangkan sang korban.
2.        Segera ikat bagian atas dan bawah gigitan
Hal kedua yang harus segera dilakukan adalah segera ikat bagian atas dan bawah luka gigitan dengan kain. Ikat dengan kencang agar bisa ular tidak menyebar ke tempat lain.
3.        Jangan sekali-kali menghisap darah
Ini dia hal penting yang harus diperhatikan saat melihat seorang teman digigit ular, jangan pernah sekali-kali menghisap darah yang keluar dari luka bekas gigitan. Mungkin hal ini memang sering muncul di banyak tayangan televisi, tapi itu sangat tidak disarankan.
Kenapa? Karena kita tidak pernah tahu dengan pasti apakah ular yang menggigit itu berbisa mematikan atau tidak. Selain itu, kita juga tidak tahu dengan pasti apakah bagian mulut kita ada luka kecil, atau pun gigi yang berlubang. Bahayanya, kalau ular itu benar berbisa dan ada luka kecil di bagian mulut, bisa jadi bisa itu masuk dan menjalar ke tubuh kita.
4.        Usahakan bagian yang digigit dalam posisi datar
Selain mengikat bagian yang digigit dengan kencang, perhatikan juga posisinya datar. Ini untuk menghindari lebih banyaknya darah yang keluar dari luka. Ini juga menghindari bisa ular mengalir lebih cepat mengikuti aliran darah.
Jika bagian kaki yang digigit, sebaiknya gotong tubuh sang korban. Jangan biarkan jalan sendiri karena bisa menambah parah pendarahan.
5.        Segera bawa korban ke rumah sakit 
Setelah 4 langkah di atas sudah dilakukan, saatnya membawa korban ke rumah sakit atau puskesmas terdekat. Jangan biarkan waktu digigit dengan penanganan serius dari pihak medis terlalu lama. Ini bisa membahayakan kondisi sang korban.


Bagaimana? Sudah jelas kan? Jangan sampai kita mati konyol di atas gunung hanya karena kita tidak paham hal - hal sepele seperti ini ya. Semoga bermanfaat :)