![]() |
gambar via Google |
Note : Ditulis dalam rangka melengkapi tugas pribadi sebagai delegasi FSLDK Soloraya dalam RAPIMNAS FSLDK (Rapat Pimpinan Nasional Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus se-Indonesia) di Universitas Airlangga 28-31 Maret 2013.
Masih dalam serangkaian acara RAPIMNAS 1 FSLDK, gedung
GRABIK FK UNAIR Ahad (31 Maret 2013) kembali bergema dengan Seminar
Jurnalistik. Jusman Dalle selaku pembicara memompa semangat menulis para
peserta. Para peserta yang menghadiri seminar jurnalistik ini adalah para
peserta Rapimnas FSLDK yang berasal dari seluruh penjuru tanah air Indonesia
dan beberapa mahasiswa Universitas Airlangga.
Kenapa menulis? Alasan seseorang untuk menulis ada bermacam-macam.
Di dalam QS. Al-‘Alaq ayat 4, seorang muslim wajib menuntut ilmu, salah satunya
adalah dengan pena atau menulis. Bahkan kita sebagai mahasiswa harus bisa
menulis, hendak lulus kuliah pun harus menulis skripsi (skripsinya sudah nyampe
bab berapa ya sekarang?? Hhehehehe.. ). Sepotong hadits ini pun sangat akrab di
telinga kita >> “Ikatlah ilmu
dengan menulis”. Dengan menulis, maka ilmu yang akan kita peroleh
sekarang akan bisa dipelajari oleh generasi yang akan datang karena tulisan
adalah warisan peradaban yang tak lekang oleh waktu. Ketika kita menulis, maka
transformasi ide akan berjalan secara kontinyu karena ketika seseorang menulis
dia harus mempunyai bekal ilmu yang cukup untuk merangkai ide – ide yang ada
dalam pikirannya. JOSH !
Seorang Napoleon Bonaparte saja pernah berujar, “Saya lebih takut kepada pena seorang penulis
ketimbang 1000 bedil tentara musuh”. Karena dengan menulis, ilmu
dapat tersalurkan dan ide dapat tersampaikan. Di samping itu hanya dengan
menulis dapat mengubah dunia. Maka keterampilan menulis sangat penting untuk
diperbaharui dan dilatih. Namun, sayangnya tidak semua orang memiliki kesadaran
untuk menulis. Inilah peran kita menularkan semangat menulis :)
Ilmu itu ada
dalam akal fikiran, lisan dan tulisan tangan (HR. Ibnu Katsir). Di masa sekarang ini,
peradaban ditegakkan oleh pena. Abad 20 adalah era saling mempengaruhi melalui
opini publik, bisa kita lihat beberapa tokoh politik hancur image-nya di mata publik hanya karena
media. Media sebagai hakim publik dan masyarakat sebagai Jaksa penuntutnya.
Pentingnya menulis dan meningkatkan kemampuan menulis juga
perlu diimbangi dengan meregenerasi dan menularkan keahlian serta semangat
dalam menulis. Sebagai aktivis Dakwah Kampus, perlu bagi seorang aktivis pandai
menulis untuk lebih menarik perhatian pembaca dan masyarakat untuk menyimak isi
dari dakwah yang disampaikan. Tak dipungkiri lagi kecepatan perkembangan
teknologi menuntut para aktivis untuk meng-upgrade diri. Ada sebuah
selentingan yang menggelitik telinga kita “jangan menulis untuk mencari uang”. Benar
sekali, ketika kita menulis untuk mencari uang maka ide dan intelektualitas
kita akan terbeli. Selain itu, ketika kita mengirimkan karya kita ke media maka
kita harus tahu medan dan sifat – sifat media tersebut. Ada beberapa media
massa yang anti t****yah seperti T**po dan Kom**s.
Lalu bagaimana tips menulis yang tepat? Jusman Dalle
memberikan beberapa tips penting bagaimana memulai menulis, yaitu dengan
mencari ide tulisan dan membuat kerangka. Ide didapatkan dari membaca, melihat,
mendengar, berfikir, berdiskusi. Sehingga diperoleh sebuah gagasan untuk
dituangkan dalam tulisan. Karena kunci utama dalam menulis adalah mempertajam
firasat. Selain itu Judul tulisan juga mempengaruhi minat pembaca. Menurut
Jusman Dalle, judul tulisan itu harus to the point, misterius,
provokatif, singkat dan padat, berpola, original. Contoh judul berpola : ‘Rawan
Pangan Negeri Pertanian’. Selain itu, buatlah kalimat pembuka yang baik dan
mengalir agar pembaca merasa nyaman membaca hasil tulisan tangan kita.
Jika terkadang beberapa orang memiliki kesulitan dalam
mencari ide, maka salah satu peserta seminar tersebut mengungkapkan bahwa “dia
terlalu banyak ide”. Tips yang ditawarkan oleh mas Jusman adalah fokuslah pada
salah satu ide kemudian selesaikan, (Allah
pun telah berfirman di QS 94:7 yang artinya Maka apabila kamu telah selesai
(dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang
lain..) karena dengan fokus kita akan menaikkan bargaining position diri kita. Selain
itu, passion sangat diperlukan dalam menulis karena hal itu akan membawa
tulisan kita lebih valuable di mata publik. Masalah lain dalam menulis adalah
ketakutan untuk beropini. Hal ini bisa saja terjadi karena faktor
kekurangsiapan kita dalam menguasai tema yang diangkat, sehingga kita harus
lebih banyak menambah wawasan kita ^^. Ketika dikritik orang janganlah merasa
rendah diri , justru kitalah yang harus berterimakasih padanya karena dia telah
memperbaiki kekurangan kita.
JADIIII, jangan patah semangat untuk
terus berdakwah lewat tulisan. Menulis bisa jadi kunci kesuksesan dan dengan
menulis KITA DAPAT MENGUBAH DUNIA. :)
sumber
: dakwatuna.com dengan banyak sekali perubahan :)