Friday, October 28, 2016

PERBEDAAN MARGARIN DAN MENTEGA (BUTTER), INI JAWABANNYA

Perbedaan Margarin dan Mentega (Butter) – Tahukan kalian apa perbedaan antara margarin dan mentega? Apakah kalian menganggap keduanya adalah bahan masakan yang sama namun beda penyebutannya? Ataukan kalian menganggap keduanya bahan masakan yang berbeda tapi memiliki fungsi yang sama? Bagi yang belum tahu, ini dia jawabannya!
Tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak yang belum mengetahui apa perbedaan margarin dan mentega baik secara fisik, komposisi maupun kegunaannya. Banyak juga yang tidak tahu ketika dihadapkan pada sebuah bahan masakan dengan bentuk menyerupai krim padat berwarna kuning, apakah itu mentega ataukah margarin.
Kadang banyak yang beranggapan margarin atau mentega itu sama saja, tergantung kebiasaan menyebutnya seperti apa. Banyak yang menganggap kalau mentega dan margarin terbuat dari bahan yang sama dengan kegunaan yang sama pula dan biarpun berbeda itu hanya masalah nama dan dapat saling menggantikan. Ternyata anggapan kita selama ini keliru lho.

PERBEDAAN MARGARIN DAN MENTEGA (BUTTER) SECARA FISIK, KOMPOSISI DAN KEGUNAAN


Margarin ternyata sangat berbeda dengan mentega atau butter, baik itu dari masalah bahan maupun dari kegunaannya. Sementara mentega dengan butter memang bisa dibilang sama untuk istilah di negara kita, namun sebenarnya juga terdapat sedikit perbedaan tetapi bisa saling menggantikan. Berikut ini ulasan singkatnya.

MARGARIN

Jika dilihat dari bahan pembuatnya, margarin terbuat dari lemak nabati yang dicampur dengan pengemulsi dan bahan-bahan tambahan lainnya sehingga membentuk krim setengah padat dengan tekstur yang lebih kaku dibandingkan dengan mentega. Secara fisik, margarin memiliki warna kuning terang, tidak mudah meleleh dalam suhu ruangan dan lebih tahan lama serta rasanya cenderung lebih asin.
Margarin mengandung banyak lemak tak jenuh yang kaya akan omega-3 dan omega-6 yang baik untuk kesehatan. Namun, beberapa jenis/merk margarin juga mengandung lemak trans yang merupakan kolestrol jahat. Zat tersebut merupakan hasil sampingan dari hidrogenasi miyak nabati sehingga kini produsen makanan berusaha untuk menghindari / meminimalisir proses hidrogenasi seiring meningkatnya kesadaran untuk hidup sehat.

PENGGUNAAN MARGARIN

Pada umumnya, margarin memiliki tekstur yang lebih padat dibandingkan mentega dan memiliki pengemulsi dengan kemampuan yang lebih baik. Oleh karena itu, margarin cocok digunakan untuk membuat kue seperti cake dan beberapa jenis kua basah lainnya. Hanya saja, kekurangan margarin terletak pada aromanya yang khas dan cenderung asam karena mengandung lemak tak jenuh dengan kadar yang cukup tinggi.
Penggunaan lainnya, margarin seringkali digunakan untuk memasak seperti menumis dan menggoreng. Hasil gorengan yang didapatkan lebih renyah dan lebih gurih dibandingkan dengan miyak goreng cair konvensional. Selain itu, hasil gorengannya juga lebih garing tanpa menyisakan tetesan minyak.

MENTEGA

Menurut bahan pembuatnya, mentega terbuat dari lemak hewani yang biasanya berasal dari krim susu atau lemak susu. Secara fisik, mentega memiliki tekstur yang lebih lembek jika dibandingkan dengan margarin sehingga tidak dapat bertahan walau dalam suhu ruangan atau mudah meleleh. Warnanya cenderung lebih pucat dan memiliki aroma khas yang sangat enak seperti aroma susu. Mentega tidak dapat disimpan lama di udara terbuka karena mudah teroksidasi dan berbau tengik.
Karena berbahan dasar lemak hewani, mentega memiliki kadar kalori dan lemak jenuh yang sangat tinggi. Tentunya hal tersebut kurang baik bagi kesehatan karena mengandung kolestrol jahat yang dapat berakumulasi dalam tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan. Namun begitu, mentega lebih banyak disukai karena rasa dan aromanya yang menggugah selera.

PENGGUNAAN MENTEGA

Mentega kurang cocok digunakan sebagai bahan pembuat kue, karena teksturnya yang lembek maka hasil akhir kue basah tidak akan terbentuk secara sempurna. Mentega memiliki kemampuan mengemulsi yang buruk sehingga jarang digunakan untuk membuat kue tanpa didampingi dengan campuran margarin.
Biasanya, mentega dipilih sebagai bahan pembuat kue kering seperti cookies untuk mendapatkan hasil yang renyah dan ringan. Nama butter cookies merupakan kue yang menggunakan bahan dasar mentega dalam jumlah banyak sehingga teskturnya garing namun sangat ringan.

BISAKAH MARGARIN DAN MENTEGA SALING MENGGANTIKAN?

Secara teknis, mentega dan margarin tidak dapat saling menggantikan tapi tidak bersifat mutlak. Mentega kurang cocok untuk menggantikan margarin dalam hal membuat kue basah karena tekstur kue yang didapat menjadi lembek dan tak berbentuk namun rasanya memang lebih enak.
Sementara margarin kurang cocok untuk menggantikan mentega dalam hal membuat kue kering. Tekstur yang didapat nantinya menjadi kurang garing dan kurang lembut serta cenderung agak keras.
Untuk mendapat hasil yang terbaik saat membuat cake, biasanya mentega dan margarin dipadukan dengan tujuan mendapatkan tekstur yang baik dengan rasa dan aroma yang enak. Sementara untuk membuat kue kering, mentega menjadi prioritas untuk mendapatkan tekstur dan rasa yang terbaik. Margarin lebih cocok untuk penggunaan multifungsi yang tidak didapatkan dari mentega seperti menggoreng, menumis dan keperluan memasak yang lainnya.
Perbedaan margarin dan mentega tersebut sekaligus merupakan kekurangan dan kelebihan dari keduanya. Kendati tidak dapat saling menggantikan secara keseluruhan, keduanya dapat dipadukan untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Semoga bermanfaat ya!

Resep Mashed Potato (Repost dari JTT)

Resep ini saya repost karena saya suka dengan resep ini. Resep asli ada di blog justtryandtaste.com


Anda penyuka mashed potato? Dan lebih memilih kentang tumbuk daripada kentang goreng saat menyantap seporsi steak di restoran? Maka mungkin resep yang saya tampilkan kali ini bisa anda coba di rumah. Terus terang saya sendiri tidak bisa memilih di antara keduanya, tergantung moodsaat itu. Namun bulan lalu kala menyantap seporsi steak di 'Meat Me' sebuah restoran steak di Kemang Village, porsi kentang tumbuknya membuat saya mengelus dada, super imut. Walau rasanya memang creamy, gurih dan lezat namun porsinya benar-benar pelita hati alias kikir banget sih. 

Terkadang saya suka heran dengan restoran yang menyajikan kentang tumbuk, kalau bukan porsinya yang minim maka harganya yang dibuat selangit. Apa sih yang membuat makanan ini menjadi mahal? Bahan dasarnya toh hanya kentang yang kita tahu harganya tidaklah terlalu mahal, dihaluskan dan ditambahkan bahan-bahan lain yang juga mudah diperoleh. Jadi minggu lalu saat keinginan untuk menyantap steak tiba maka kali ini saya pun mati-matian untuk membuat kentang tumbuk sendiri. Hasilnya sungguh mantap! Tidak kalah dengan mashed potato a la restoran, lembut, creamy, gurih dan lezat. Selain itu saya bisa menyantapnya dalam porsi besar bersama 250 gram steak daging sapi dengan saus lada hitam. Kenyang dan puas! ^_^
Potato masher lebih terjangkau harganya, alat penumbuk ini memiliki tangkai dengan bagian dasar alat terbuat dari lempengan batang besi yang ditekuk membentuk pola. Kentang cukup diletakkan di dalam wadah dan alat lantas ditumbukkan ke permukaan kentang berulang kali hingga hancur. Untuk menciptakan kentang tumbuk yang ringan dan fluffy memang agak susah menggunakanpotato masher, tapi untuk menghaluskan kentang dengan sukses maka alat ini sangat direkomendasikan. Nah karena saya tidak memiliki kedua alat ini maka untuk melihat bentuknya maka anda bisa mengklik link yang saya sertakan di bawah ya. ^_^
Creamy Mashed Potato
Untuk 4 porsi
Bahan:




Kentang tumbuk yang lezat menurut saya adalah jika rasa gurihnya begitu terasa, halus dan lembut. Walau tentu saja kelemahan mashed potato seperti ini adalah membuat anda cepat eneg kala menyantapnya. Untuk menciptakan kentang tumbuk seperti yang saya inginkan maka kentang harus dikukus hingga empuk dan matang. Kentang kukus akan menghasilkan mashed potato yang lebihfluffy atau mengembang dibandingkan kentang rebus, dengan cara dikukus maka kentang tidak terlalu menyerap air. Kentang lantas dihaluskan. Dari hasil membaca beberapa literatur maka untuk menghasilkan mashed potato terbaik ada dua cara yang dilakukan untuk menghaluskan kentang, yaitu menggunakan potato ricer dan potato masher. 


Potato ricer berbentuk seperti mangkuk terbuat dari stainless steel dengan lubang yang banyak. Kentang yang sudah matang kemudian dimasukkan ke dalam mangkuk dan alat penekan diturunkan hingga kentang menjadi hancur dan meluncur keluar dari lubang-lubang yang terdapat di mangkukalat. Dengan potato ricer maka  hasil kentang lebih lembut, berpori, ringan dan tidak lumpy (basah dan menggumpal). Sayangnya alat ini lumayan mahal harganya membuat saya mengurungkan niat untuk membelinya. 


Tuesday, October 11, 2016

Membangun Mindset Kreativitas Ganda



Iqbal Setyarso
Communication Network Development


ACT Foundation melakukan restrukturisasi organisasi, awal Oktober 2016.  Secara umum terjadi penyederhanaan menjadi dua grup departemen (dipimpin tetap dua Senior Vice President) yaitu Group of Philanthropy & Communication dan Group of Distribution Program dengan sebuah departemen di leher di bawah Presiden ACT. Bahasan ini tak menyoal bagian demi bagian dari struktur ini, melainkan menarik ‘tafsir komunikasi’ khususnya dari Departement Group of Philanthropy & Communication (DGPC).


Eksponensial menjadi kata kunci perubahan ini, sekalgus penyebutan struktur yang akan digenjot sepenuhnya pada 2017. Triwulan terakhir 2016 ini menjadi masa ujicoba. Ujicoba personil yang dipromosikan, sekaligus ujicoba totalitas kerja struktur baru ini. Pembahasan ini ‘mengabaikan’ penamaan nama departemen, direktorat apaagi divisi, melainkan mengedepankan fungsinya. DGPC membagi diri dalam dua departemen: pengelola masyarakat donor (managing of donors society) dan pengembangan/peluasan kedermawanan (expanding of philanthropy).

Departemen pertama,  donor society heavy, condong pada isu “masyarakat donor”, mengampu tiga peran operatif: selling, marketing, dan maintaining. Peran selling memerlukan produk (dalam bahasa lembaga kemanusiaan: program), sehingga perlu pengampu yang memahami teknis selling dan menguasai product knowledge. Peran marketing, menuntut pengampu yang menguasai hal-hal makro yang melandasi hadirnya sebuah prodram, kaitannya antar-program dan antar-lini yang menopang sukses memasarkan program. Peran maintaining adalah level advance dari lini pengelolaan donor, yang menuntut pengampu dengan kapasitas pengelolaan sumberdaya donor. Ia faham kompleksitas donor, proyeksi lembaga dan posisi donor dalam bentang visi kelembagaan yang melandasi eksistensi lembaga.

Departemen kedua, expanding heavy, condong pada isu pengembangan atau peluasan,  khususnya kedermawanan, mengampu tiga peran operatif: educating, promoting, dan reporting. Peran educating, menuntut kapasitas teknis kampanye dengan berbagai wujudnya: verbal, visual, audio-visual. Edukasi khalayak, targetnya pengenalan kelembagaan (visi, misi, program). Peran promoting, mengerucut pada tujuan pengenalan produk dan partisipatif. Tingkat partisipatifnya pun bergradasi: dari sekadar berkomentar mendukung atau mengkritisi, pelibatan donasi, menjadi relawan, sampai kemitraan dalam berbagai kreativitasnya. Peran reporting, membawa dua misi komunikasi: pertanggungjawaban bagi donor di satu sisi, dan memberi perspektif sekaligus mengampanyekan kapasitas lembaga ke khalayak (membangun trust).

Kedua departemen ini dalam fungsinya, sampai pada “titik-temu” kolaboratif dalam hal pemberdayaan dan aktivasi (empowerment & activation). Kesamaannya bisa pada piranti dan tema yang disampaikan, perbedaannya pada segmentasinya. Pada departemen yang donor society heavy sasaran utamanya donors exixting dengan layanan lebih personal, sesekali customized dan memerlukan kemampuan berbicara bagi pengampunya mengingat komunikasi langsung, kadang verbal tapi sangat personal, sangat menentukan keberlanjutan hubungan dengan donor.

Sampai di sini, division of roles relatif mirip dengan yang biasa terjadi di lembaga nirlaba umumnya. Ada peran marketing dan komunikasi, ada dinamika, dan kebanyakan bersentuhan dengan parsialitas bidang. Kali ini kita bedah kemungkinan dan tantangan baru, selaras kata “eksponensial” yang sedang menjadi perbincangan kelembagaan. Pada kedua departemen disandangkan tuntutan kesadaran bereksponensial.

Mindset eksponensial kedua departemen terletak pada tiga ‘sikap mental’ dalam menyikapi program dan partnership. Pertama, sikap mental Creatingof Program &Partnership dimaknai, kesadaran memahami program (jika sudah ada), berkontribusi gagasan program (jika terjadi kejumudan kreativitas program), bahkan mengusulkan rancangbangun program (minimal pada gagasan dasarnya) selaras dengan visi lembaga dan perkembangan situasional. Ini diimbangi dengan membangun kemitraan baru. Menambah mitra menjadi kebiasaan manajerial mengingat seiring pembesaran lembaga maka sumberdaya pendukung juga harus diperbesar. Melakoni peluasan program bersamaan dengan peluasaan kemitraraan menjadi keniscayaan bagi organisasi yang tumbuh eksponensial.

Kedua, sikap mental Managing of Program & Partnership), merupakan kesadaran mengelola, meningkatkan kualitas program yang ada, bersmaan mitra-mitra terkait.  Entrypoint ‘eksekusi’nya atas program, selaras dengan mandat kelembagaan terkait: donor society heavy ataukah extending philanthropy heavy. Ketajaman pemahaman atas mandat ini menentukan kaakteristik penguatan program maupun karakteristim kemitraan yang dikelola.

Ketiga, sikap mental Developing of Program & Partnership, yakni bagaimana pengampu lini terkait membangun kapasitas mengusulkan pengembangan program (“menggali harta karun kita sendiri” -meminjam istilah Vice President PND ACT Rini Maryani), bahkan menjalin kemitraan (jika belum cukup, belum terbangun, atau menemukan celah peluasannya), yang relevan dengan program-program yang sedang dikembangkan, atau secara regular terus diperluas.

Eksponensialitas mental ini, ditunjukkan dengan adanya kesadaran membangun mindset  kreativitas ganda. “Ganda” dalam konteks ini, memberi ruang kreasi melampaui mandat teknisnya. Benar secara teknis seseorang mengampu departemen tertentu, direktorat tertentu dan divisi tertentu,  tetapi demi menjamin kesinambungan diranah gagasan (managing issues = managing ideas), pengampu dalam domain kerja pengelolaan “donor society” (direpresentasikan dengan nama departemen Philanthropy Network Development/PND) maupun “pengembangan filantropi” (direpresentasikan dengan nama departemen Communication Network Development/CND), berkontribusi dalam ranah program dan membangun jejaring – hal yang secara intensif dalam pertemuan-pertemuan kelembagaan di ACT disebut dengan “pengembangan satelit”. Setiap lini didorong membangun satelitnya, yang relevan dengan bidang garapannya, atau bidang garapan lini lain tetapi dikoordinasikan atau ditautkan dengan lini yang relevan dengan bidang garapan satelit-satelit itu.

Sikap mental pembangun mindset ini, bisa dikatakan sebagai multilayer thinking, berpilir berlapis. Bukan saja mengembangkan kapasitas “khusus” nya, melainkan mengembangkan ruang-ruang kreatif sekaligus memikirkan dan menautkan proses penautannya dengan pihak-pihak lain, multibidang, multipihak. Ini cara yang juga bermanfaat membangun kapasitas managemen (managerialship) dan kapasitas kepemimpinan (leadership). Peluasan size organisasi, dengan demikian, juga ditentukan dnegan seluas apa mimpi dan aktivasi atas mimpi itu oleh sumberdaya pengampu mandat-mandat organisasi. Ini sekelumit ‘tafsir komunikasi’ – bahwa komunikasi adalah langkah konsisten berkembang: dengan narasi, dengan berjejaring dan dengan mengaktivasi pikiran sendiri atau mengajak seluas mungkin multipihak, agar ttercipta multibenefit.