Bapak, 15 Agustus 2024.
Rumah bukanlah tentang sebuah bangunan
Rumah adalah seseorang
yang membuatmu merasa layak pulang
Dan aku sudah kehilangannya.
Hari ini, genap satu tahun tanpa Bapak. Setahun penuh rasa rindu yang tidak akan pernah hilang. Setahun belajar hidup tanpa sosok yang biasanya menjadi sandaran. Rasanya benar-benar berbeda.
Suara Bapak di telepon tak akan lagi kudengar. Senyum dan tubuh yang selama ini menuntunku, tak akan lagi bisa kupeluk.
Aku kalah dengan umur Bapak. Aku kira, Bapak akan menemaniku sampe aku punya anak dan membesarkannya hingga kemudian bisa berkunjung ke rumah Bapak di kemudian hari. Ternyata, tidak.
Tidak peduli duka sudah setahun, dua tahun, sepuluh tahun atau bahkan dua puluh lima tahun. Perihal rindu rasanya masih sama, seperti saat hari pertama beliau menutup mata untuk selamanya.
Terakhir kali, aku bertemu dengan Bapak, saat Bapak tersenyum dan melambaikan tangannya padaku yang masuk ke pintu bandara di pagi itu untuk merantau ikut suami nun jauh di NTB sana. Ternyata, itu pertemuan kita yang terakhir ya, Pak? :(
Sebelum meninggal, beberapa kali Bapak sempat bertanya, kapan aku sama abang bisa ke Solo nengokin Bapak.
Bapak, sungguh mendengar Bapak marah-marah karena aku telat bangun Subuh ternyata lebih membahagiakan daripada saat aku berdiri mematung di depan nisanmu yang tak akan pernah berbicara.
Saat merapikan semua barang-barang peninggalannya, akhirnya kami menemukan rahasia besar bahwasanya dunia Bapak tidak pernah baik-baik saja. Bapak hanya mengambil semua yang tidak baik untuk dirinya, lalu memberimu yang paling sempurna. Bahkan saat Bapak sudah tidak ada, Bapak masih memikirkan finansialku yang sekarang tidak bekerja.
Dan sekarang Bapak hanya mengambil sepetak tanah untuk tidur selamanya.Lagi butuh banget doa dari Bapak dan Ibuk, tapi akhirnya sadar kalau bapak dan Ibuk lebih butuh doaku disana. Mohon doakan almarhum Bapak saya juga ya, teman :')
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ
“Ya Allah, berilah ampunan baginya dan rahmatilah dia. Selamatkanlah dan maafkanlah ia. Berilah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah ia dengan air, es dan salju. Bersihkanlah dia dari kesalahannya sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya semula, istri yang lebih baik dari istrinya semula. Masukkanlah ia ke dalam surga, lindungilah ia dari azab kubur dan azab neraka” (HR Muslim no. 963)
Notes :
Bapak selalu bercerita ke anak-anaknya ingin meninggal seperti Rasulullah yang hanya sakit beberapa hari. Qadarullah, kondisi Bapak hingga di akhir hayat sangat bagus. Bapak masih sempat mengajari ngaji oranglain di rumah, video-call cucunya di Sulawesiuntuk cek hafalan, menambah hafalan di hari-hari terakhir menjelang kepulangan. Dan akhirnya, doa Bapak terkabul.
Bapak masih sempat update dan share tausyiah tengah malam, Subuh kritis dan tidak lama kemudian Bapak berpulang ke rahmatullah. Semoga Bapak husnul khatimah ya, Pak. Kami anak-anakmu mendoakanmu.

